Second Wave COVID-19 dan Bagaimana Mencegahnya - Lesson Learnt dari Tiongkok
Pandemi COVID -19 telah meluluhlantakan ekonomi dunia, ketakutan berada di benak semua orang mengenai kapan wabah ini akan berakhir. Ketika...
Pandemi COVID -19 telah meluluhlantakan ekonomi dunia, ketakutan berada di benak semua orang mengenai kapan wabah ini akan berakhir. Ketika garis kurva kasus terkonfimasi positif di Tiongkok melandai, selanjutnya muncul kekhawatiran akan adanya gelombang kedua (second wave) penyebaran wabah berulang, bahkan mungkin lebih besar. Kapasitas sistem kesehatan diuji kembali sehingga kebijakan pembatasan ketat kegiatan masyarakat kembali diberlakukan.
Bagaimana Pandemi gelombang pertama mereda?
Badan Kesehatan Dunia (World Health Organizations, WHO) menjelaskan bahwa meredanya pandemi gelombang pertama disebabkan kebijakan yang ketat terkait pembatasan aktivitas masyarakat dan tentunya perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih jauh dari itu, munculnya kekebalan bagi orang yang pernah terinfeksi (herd immunity) virus corona ini membuat penyebaran virus tidak merebak kemana- mana.
Perjalanan menuju Herd Immunity[1].

Bagaimana virus kembali datang?
Begitu banyak kemungkinan yang menyebabkan penyebaran virus berulang. Belajar dari wabah Spanish Flu tahun 1918, gelombang kedua menyebabkan lebih banyak kematian. Virus yang menyerang pada gelombang kedua bermutasi sehingga tidak dikenali oleh antibodi pada kebanyakan orang. Hal tersebut diperparah oleh virus yang menginfeksi orang yang sebelumnya tidak terekspos dengan infeksi virus tersebut. WHO pada 24 April 2020 menegaskan kembali belum ada pasien yang telah sembuh dari COVID-19 yang memiliki antibodi yang dapat memproteksi mereka jika akan ada serangan gelombang kedua.
Bagaimana China mengantisipasi Second Wave?
Sebagai negara besar pertama dengan kasus COVID-19, Tiongkok saat ini fokus untuk mengantisipasi second wave infeksi COVID-19. Para ahli di Tiongkok menyimpulkan bahwa virus tidak dapat diberantas sampai habis sama sekali, untuk itu pemerintah fokus untuk menjaga tingkat infeksi di level yang dapat dikelola oleh kapasitas sistem kesehatannya. Seperti yang dapat dilihat pada grafik di bawah, penambahan kasus baru di Tiongkok telah menurun secara drastis sejak pertengahan Februari 2020. Total jumlah kasus di Tiongkok sampai dengan 23 April 2020 mencapai sekitar 83.900 kasus, sedangkan total jumlah kasus di Hubei sampai dengan periode yang sama mencapai 68.100 kasus.

Sumber: Bloomberg News, John Hopkins University
Jika melihat rincian jumlah kasus per provinsi, dapat dilihat bahwa terdapat 593 kasus di Beijing. Rendahnya jumlah kasus tersebut dikarenakan oleh pembatasan aktivitas masyarakat yang ketat oleh pemerintah daerah setempat. Shanghai memiliki jumlah kasus yang sedikit lebih tinggi dari Beijing, yaitu 641. Perbedaan angka yang tidak begitu jauh menarik untuk diperhatikan lebih lanjut mengingat pemerintah Shanghai tidak memberlakukan pembatasan yang ketat pada masyarakat. Heilongjiang memiliki jumlah kasus tertinggi dibandingkan dengan Shanghai dan Beijing, yaitu 928 kasus. Ini terjadi walaupun pemerintah setempat telah memberlakukan pembatasan yang ketat, setara dengan yang diberlakukan di Beijing. Para ahli menyimpulkan bahwa tingginya jumlah kasus sebagian dikarenakan oleh orang-orang yang melintasi perbatasan dengan Rusia.

Sumber: Bloomberg News, John Hopkins University
Secara perlahan masyarakat kembali ke kehidupan normalnya dengan tetap waspada untuk mempertahankan tingkat infeksi yang rendah. Meskipun Tiongkok sudah mengurangi intensitas lockdown secara bertahap karena berkurangnya jumlah kasus positif, beberapa tempat umum seperti sekolah dan destinasi hiburan telah dibuka kembali, namun tetap waspada terhadap gelombang kedua dengan cara tetap menjaga jarak (social distancing) dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Meskipun pembatasan ruang gerak telah dikurangi intensitasnya, Pemerintah Tiongkok tetap mewajibkan penggunaan masker dan mengawasi secara ketat jarak antar masyarakat di tempat publik, pengecekan suhu tubuh, etika batuk dan bersin, dan menggencarkan promosi perilaku hidup bersih dan sehat (civilized behaviour).
WHO kembali menegaskan bahwa kunci agar infeksi tetap rendah adalah meningkatkan kapasitas sistem kesehatan, pengujian (testing) dan pelacakan (tracing) orang yang terinfeksi, mengisolasinya, dan mengidentifikasi kontak terakhir mereka.
[1] Study Published WHO, 7 April 2020
Cara mengutip
Aini Utami Rahayu. (2020). Second Wave COVID-19 dan Bagaimana Mencegahnya - Lesson Learnt dari Tiongkok. SMI Institute, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Diakses , dari
Terkait
Pengetahuan serupa
Dipilih berdasarkan kesamaan tag sektor, tema, dan geografi.
Pertumbuhan Ekonomi, Daya Beli dan Covid-19
Bagi sebagian kalangan, membicarakan pertumbuhan ekonomi saat ini menjadi kurang tepat. Mengingat, indikator-indikator ekonomi tidak normal karena pandemi Covid-19. Akan...
Rantai Dampak Coronavirus terhadap SDGs Goals
Negara-negara di dunia saat ini menghadapi pandemi COVID-19 yang menekan ekonomi global dan juga hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Artikel...
Kondisi, Evaluasi dan Strategi Ketahanan Pangan Indonesia
"Food is important as energy, as security, as the environment. Everything is linked together" – Louise Fresco Indonesia mencatat pertumbuhan...
Sustainable Financing untuk Mewujudkan Ketahanan Sistem Kesehatan Nasional: Lesson Learnt from Asia & Pacific Countries
Sustainable Financing atau pembiayaan berkelanjutan terhadap sistem kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam menghadapi pandemi dan krisis di masa...
Diskusi
Pertanyaan yang tidak untuk dibahas terbuka dapat dikirim lewat korespondensi tertutup.
Masuk untuk ikut berdiskusi. Komentar anonim tidak tersedia.
Memuat diskusi…