Lewati ke konten utama / Skip to main content
Masuk
Lesson LearnedArtikel

Rantai Dampak Coronavirus terhadap SDGs Goals

Negara-negara di dunia saat ini menghadapi pandemi COVID-19 yang menekan ekonomi global dan juga hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Artikel...

PWPunto WijayantoInfrastructure Specialist
Terbit 8 Mei 202049 dilihat

Negara-negara di dunia saat ini menghadapi pandemi COVID-19 yang menekan ekonomi global dan juga hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Artikel ini akan mencoba menyoroti dari 3 aspek, yaitu: penyebaran COVID-19, kapasitas sistem kesehatan nasional dan infrastrukturnya, dan dampak dari COVID-19 terhadap United Nations Sustainable Development Goals (UN SDGs). Data global terkini menunjukan:

  • 15 negara telah melewati tingkat 50 kasus coronavirus;
  • 11 negara telah melewati level 100 kasus coronavirus;
  • Kematian pertama pada umumnya terjadi ketika tingkat 100 kasus tercapai, kematian pertama dapat terjadi sebelum 100 kasus untuk sebagian negara dengan jumlah penduduk yang sangat kecil;
  • Setelah 1.000 kasus tercapai, angka kematian mulai meningkat; dan
  • Tingkat kematian sangat tergantung pada banyak faktor, seperti:
    • Angka kematian di beberapa negara terjadi pada tahap awal penetrasi virus, yaitu saat jumlah kasus di bawah 5;
    • Ketidaksiapan infrastruktur kesehatan, secara global, tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menghadapi epidemi dengan ukuran seperti ini, yang berarti bahwa beberapa pasien tidak akan bisa sembuh karena mereka tidak dapat ditangani dengan baik oleh sistem pelayanan kesehatan yang ada;
    • Kemampuan pembiayaan terhadap pelayanan kesehatan, penelitian, infrastruktur farmasi dan pengujian / produksi vaksin;
    • Penyakit itu bisa terus menyebar di negara-negara yang tidak memiliki vaksin, meskipun beberapa negara tampaknya sudah mulai menguji beberapa produk eksisting, seperti Thailand yang sudah memberikan “Vaksin HIV” pada pasien COVID-19; dan
    • Tampaknya juga virus corona dapat berevolusi dan mampu beradaptasi.

Kapasitas respon infrastruktur kesehatan sangat penting untuk merespon wabah COVID-19. Sebagian besar rumah sakit di Tiongkok menunjukkan kesulitan dalam mengelola pandemi COVID-19 ini. Korea Selatan tampaknya memberi respon yang lebih baik di mana tingkat kematiannya rata-rata hanya mencapai 0,6% - 3,4%, yang berarti bahwa negara tersebut memiliki sistem kesehatan yang baik. Kebanyakan negara-negara lain dalam keadaan normal pun mengalami kesulitan untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat.

Singkatnya, kapasitas respon suatu negara akan tergantung pada bagaimana masyarakat dan pemerintah membagi peran dalam penanganan COVID-19 ini. Pemerintah memiliki peran dan tanggung jawab menyediakan pendanaan dan menjamin keberlangsungan pelayanan kesehatan yang berbasis continuum of care. Sementara itu, masyarakat wajib patuh untuk melakukan social/physical distancing untuk mengendalikan penularan.

Selain melihat kapasitas respon COVID-19 masing-masing negara secara terpisah, kita juga dapat melihat dampak COVID-19 secara global. Salah satu badan kajian strategis PBB, yaitu IMEDD, mencoba melihat bagaimana SDGs—sebagai satu-satunya kerangka kerja internasional saat ini—dapat digunakan untuk membantu membantu negara-negara dalam merespon pandemi COVID-19. Penelitian dilakukan untuk melihat dampak COVID-19 terhadap masing-masing tujuan yang termasuk dalam SDGs yang dipastikan hampir semua terdampak oleh wabah ini. COVID-19 bukan saja menghantam sistem kesehatan global namun juga mengacaukan seluruh tatanan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Tabel di bawah menjelaskan lebih detil dampak coronavirus pada tujuan dalam SDGs.

SDGs Goal Nama Goals Dampak COVID-19
SDG Goal 1

NO POVERTY

Pertumbuhan ekonomi harus inklusif untuk menyediakan pekerjaan yang berkelanjutan dan mempromosikan kesetaraan.

COVID-19 mengakibatkan ketidakmerataan akses masyarakat kepada pelayanan kesehatan, vaksin dan pangan sehingga menyebabkan daya tahan masyarakat miskin semakin rapuh.
SDG Goal 2

ZERO HUNGER

Sektor pangan dan pertanian memberikan solusi utama untuk pembangunan dan memiliki peran penting dalam pemberantasan kelaparan dan kemiskinan.

Krisis kesehatan dunia ini menunjukkan betapa pentingnya sektor makanan dan kesehatan untuk membantu mengembangkan sistem kekebalan masyarakat. Beberapa investasi harus direncanakan oleh negara-negara terdampak, khususnya dalam sektor pertanian, untuk mempromosikan cara bertani yang aman dan sehat. Ini termasuk mengurangi jumlah daging yang diproduksi. Konsumsi daging merupakan faktor yang kuat dalam penyebaran beberapa penyakit dari hewan ke manusia. Contoh di Tiongkok menunjukkan bahwa virus korona mungkin ditransmisikan dari hewan ke manusia melalui pengonsumsian kelelawar. Sektor daging juga merupakan salah satu kontributor terbesar emisi CO2 dunia. Menghindari penggunaan pestisida kimia juga merupakan masalah utama di masa depan guna memproduksi makanan sehat yang tidak menyebabkan masalah kesehatan bagi penduduk secara umum. Mengembangkan urban natural agriculture adalah salah satu dari banyak cara untuk mencapai tujuan ini.
SDG Goal 3

GOOD HEALTH AND WELL-BEING

Memastikan kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan untuk semua usia merupakan suatu hal yang penting untuk pembangunan berkelanjutan.

Mengembangkan sistem kesehatan yang mampu melawan pandemi, meningkatkan pengetahuan penduduk tentang kesehatan atau lingkungan dan pencegahan, mengambil tindakan pencegahan untuk beberapa kelompok penduduk seperti, penduduk berisiko tinggi atau memiliki kekebalan yang lemah, anak-anak, orang-orang cacat, wanita hamil, orang tua, orang yang alergi atau sensitif.
SDG Goal 4

QUALITY EDUCATION

Memperoleh pendidikan yang berkualitas adalah fondasi untuk meningkatkan dan mengembangkan kehidupan masyarakat

Dengan meningkatnya jumlah kasus di berbagai negara, otoritas publik menghadapi penutupan sekolah dan kewajiban mereka akan kelangsungan pendidikan bagi anak-anak (yang dilihat sebagai kewajiban lintas batas). Implementasi sekolah online adalah respon publik selama masa krisis kesehatan dunia ini. Itu dapat diterapkan untuk semua kelas. Perhatian khusus harus diberikan pada konten edukatif yang ditemukan anak-anak, terutama di YouTube, Google dan di media sosial.

Dengan penyebaran coronavirus, anak-anak yang tinggal di luar negeri (jauh dari negara asalnya) dapat menghadapi pemberhentian pendidikan selama masa krisis kesehatan dunia ini. Anak-anak tersebut perlu diintegrasikan dalam sistem sekolah online internasional atau bahkan inisiatif solidaritas yang diinisiasikan oleh host country atau oleh negara berkembang dimana anak-anak berasal.

SDG Goal 5

GENDER EQUALITY

Kesetaraan gender bukan hanya hak asasi manusia yang mendasar, tetapi juga merupakan fondasi yang diperlukan untuk dunia yang damai, sejahtera, dan berkelanjutan.

Memberdayakan perempuan untuk masalah kesehatan sehingga mereka dapat mendidik anak-anak mereka untuk tindakan pencegahan yang baik, membantu pendidikan online anak-anak, mengalihkan anak-anak dalam konteks krisis di mana mereka dapat bosan atau bahkan menjadi depresi.

Memberdayakan laki-laki untuk mendukung keselamatan, solidaritas, komitmen untuk generasi masa depan dan dukungan terhadap perempuan (pendidikan, keluarga, kesehatan, lingkungan, budaya, musik, seni). Fondasi kesetaraan gender dalam periode krisis ini harus ditunjukkan sebagai contoh kepada generasi mendatang (mengingat bahwa beberapa anak kehilangan orang tua mereka dalam masa wabah ini)

SDG Goal 6

CLEAN WATER AND SANITATION

Air yang bersih dan mudah diakses oleh semua adalah bagian penting dari dunia yang ingin kita tinggali.

Setelah 2,5 bulan epidemi di Tiongkok, media menunjukkan bahwa beberapa tempat yang memberlakukan lockdown penuh mengalami kesulitan terkait pasokan air mereka. Pasokan kebutuhan dasar seperti air, listrik, telekomunikasi, makanan, dan produk sanitasi harus dapat dipastikan adanya oleh pemerintah di masing-masing negara.

SDG 6 ini terkait dengan SDG 1 dan SDG 10 yang berarti bahwa Goal ini tergantung pada akses air di masing-masing negara.

SDG Goal 7

AFFORDABLE AND CLEAN ENERGY

Energi memiliki peran penting dari hampir setiap tantangan dan peluang yang ada.

NASA menunjukkan selama sebulan dimana masa lockdown diberlakukan, emisi CO2 Tiongkok turun secara drastis. Kasus ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Padahal, pada tahap awal epidemi, penggunaan mobil pribadi meningkat karena angkutan umum dikhawatirkan menjadi tempat dimana penumpang dapat terkontaminasi oleh virus korona. Konsekuensi untuk mempertahankan kegiatan ekonomi adalah peningkatan permintaan bahan bakar dan tingkat kemacetan di dalam dan sekitar kota.

Negara-negara sudah harus mulai mandiri dalam memenuhi permintaan bahan bakar dalam negeri yang juga didukung oleh penggunaan teknologi baru. Ini dapat dilakukan melalui investasi dalam sektor energi guna memproduksi sumber energi yang terjangkau dan bersih untuk transportasi. Investasi juga diperlukan untuk mendukung pengembangan ekonomi online.

SDG Goal 8

DECENT WORK AND ECONOMIC GROWTH

Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan membutuhkan masyarakat untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan orang untuk memiliki pekerjaan yang berkualitas.

Banyak sektor kegiatan yang terkena dampak krisis kesehatan dunia ini, seperti: transportasi, energi, telekomunikasi, farmasi, penggelaran acara dan festival, restoran, dan semua kegiatan yang bukan bagian dari prioritas utama. Sebagian besar investasi publik digunakan untuk penyelesaian krisis kesehatan, yang berarti bahwa beberapa sektor akan terbengkalai dan perlu melakukan konversi ke arah ekonomi online.

Dengan pemberlakuan social/physical distancing tempat-tempat umum seperti restoran, bar, museum, dan salon diharuskan tutup atau hanya melayani order untuk dibawa pulang. Ini memiliki konsekuensi ekonomi yang dapat terjadi dalam 2 hingga 3 bulan setelah epidemi. Usaha kecil dan menengah tanpa arus kas yang cukup kemungkinan besar akan tutup. Pada saat yang sama, beberapa kegiatan lain akan muncul karena krisis, sebagian besar kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan dan semua kegiatan yang dapat dikembangkan secara online (telework, teleservices, teleart, telemusic) dengan menggunakan adapted platform online dan struktur bisnis untuk memberikan transparansi penuh pada kegiatan mereka.

SDG Goal 9

INDUSTRY, INNOVATION, AND INFRASTRUCTURE

Investasi dalam infrastruktur sangat penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

Krisis kesehatan dunia ini menunjukkan kurangnya infrastruktur kesehatan, peralatan untuk keselamatan dan bahkan antisipasi terhadap perencanaan kesehatan oleh setiap negara. Mempertimbangkan krisis coronavirus dan risiko kesehatan di masa depan (yang diketahui karena efek perubahan iklim, seperti ditemukannya virus tertentu yang sangat berbahaya yang tertidur di lapisan es yang mencair, seperti yang telah diungkapkan oleh beberapa penelitian resmi yang diadakan di 2019), mapping kebutuhan infrastruktur kesehatan sangat dibutuhkan untuk merespons skenario kasus terburuk, mengintegrasikan masalah sanitasi, kelanjutan kewajiban pemerintah dan setiap negara, dan mempertahankan kegiatan yang membantu menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

SDG Goal 10

REDUCED INEQUALITIES

Untuk mengurangi ketidaksetaraan, kebijakan harus bersifat universal, memperhatikan kebutuhan penduduk yang kurang beruntung dan terpinggirkan.

Krisis kesehatan dunia ini menyebabkan ketidaksetaraan di beberapa negara terkait investasi dalam penelitian dan pengembangan, respon dari sistem publik, sistem pelayanan kesehatan, akses terhadap obat-obatan dan vaksin, dan informasi yang tersedia untuk penduduk secara umum maupun tenaga kerja medis. Ketidaksetaraan ini mengimplikasikan bahwa beberapa orang di beberapa negara tidak memiliki akses ke sistem pelayanan kesehatan dan hal itu dapat menyebabkan peningkatan angka kematian.

SDG Goal 11

SUSTAINABLE CITIES AND COMMUNITIES

Perlu ada masa depan di mana kota memberikan peluang bagi semua, dengan akses ke layanan dasar, energi, perumahan, transportasi, dan banyak lagi.

Untuk kota-kota dengan tingkat populasi yang tinggi, angkutan umum termasuk tempat dengan risiko penyebaran yang tinggi (karena kedekatan orang-orang dalam angkutan umum). Krisis kesehatan dunia seperti ini meningkatkan kemungkinan penggunaan kendaraan pribadi di negara-negara tersebut yang berarti akan menciptakan permintaan sumber energi (yang kebanyakan adalah bahan bakar minyak). Itu bertentangan dengan kebijakan mobilitas berkelanjutan dan meningkatkan emisi CO2.

Guna memastikan keberlanjutan aktivitas di kota tersebut, sebagian besar kegiatan dianjurkan untuk dialihkan secara online selama krisis berlangsung. Platform online dapat menyediakan informasi dan konten terkait kesehatan, budaya, lingkungan, media, seni, musik, kegiatan untuk anak-anak, dan juga kisah sukses dan solidaritas masyarakat.

SDG Goal 12

RESPONSIBLE CONSUMPTION AND PRODUCTION

Produksi dan Konsumsi yang Bertanggung Jawab

Pandemi COVID-19 menyoroti risiko pengelolaan limbah serta tenaga kerja yang terkait. Limbah yang tidak dikelola dengan baik dan benar dapat menyebabkan krisis kesehatan lain yang akhirnya akan menekan sistem kesehatan dan menimbulkan risiko sosial lainnya. Semua produk kemasan harus dihindari oleh produsen. Masyarakat sedapat mungkin memilih untuk membeli produk tanpa atau sedikit kemasan, seperti pasta dan beras. Gerakan tanpa kemasan akan memberikan arah yang positif pada penanganan pandemi.
SDG Goal 13

CLIMATE ACTION

Perubahan iklim adalah tantangan global yang memengaruhi setiap orang, di mana pun.

Krisis kesehatan dunia saat ini dapat dibandingkan dengan perang melawan perubahan iklim. Hal ini menyangkut semua orang di muka bumi dan semua orang memiliki risiko kecuali kalau beberapa tindakan pencegahan diambil pada tahap epidemi lebih awal oleh negara-negara untuk menghindari penyebaran virus ini. NASA juga telah menunjukkan bahwa krisis Coronavirus memungkinkan untuk mengurangi emisi CO2 secara drastis di atas wilayah Cina (khususnya di sebagian besar daerah Wuhan dan sekitarnya).
SDG Goal 14

LIFE BELOW WATER

Masa depan yang berkelanjutan bergantung kepada manajemen sumber daya bawah laut ini

Beberapa orang dapat tergoda oleh gagasan memancing di masa krisis ini, meskipun harus diingat kembali, bahwa semua polutan yang dikirim ke atmosfer oleh aktivitas manusia jatuh ke laut dan samudera. Ini berarti bahwa semakin banyak ikan besar tertangkap, semakin tinggi kemungkinan adanya logam berat atau plastik di tubuh mereka. Kerang yang ditemukan di bebatuan dekat pantai sering juga memunculkan beberapa masalah sanitasi yang dapat menyebabkan keracunan makanan yang sangat serius. Karena itu, asal mula ikan dan makanan laut harus sangat terkontrol. Ini mengarah pada peluang menciptakan label lingkungan baru untuk mengesahkan asal mula ikan dan label kesehatan yang akan menyatakan kesehatan ikan. Tentu kedua label tersebut harus dapat ditelusuri asalnya.
SDG Goal 15

LIFE ON LAND

Mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi penggurunan, menghentikan dan membalikkan degradasi lahan, menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati.

Dalam masa krisis, setiap tindakan kecil yang merusak lingkungan dapat menjadi ancaman bagi kesehatan semua. Sebagai contoh, seseorang yang akan membuang beberapa produk beracun di sungai kecil tetap dapat mencemari beberapa orang yang mengambil air sungai tersebut dan juga hilir dari sungai tersebut. Hal ini sangat mungkin terjadi terutama di negara-negara berkembang.
SDG Goal 16

PEACE, JUSTICE, AND STRONG INSTITUIONS

Akses ke keadilan untuk semua, dan membangun institusi yang efektif dan bertanggung jawab di semua tingkatan.

SDG 16 ini adalah tentang Hak Asasi Manusia dalam hal kesehatan dan lingkungan: perlakuan terhadap pasien COVID-19, kemampuan negara-negara untuk menanggapi kewajiban mereka terhadap penduduk, transparansi pada situasi saat ini dan untuk minggu atau bulan mendatang. Harus diingat bahwa kedua masalah kesehatan dan lingkungan saling terkait, mengingat bahwa penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak lingkungan rusak, semakin banyak kita menemukan orang yang memiliki beberapa masalah kesehatan.
SDG Goal 17

PARTNERSHIP

Merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

Sistem internasional untuk kesehatan dan lingkungan bekerja sebagai berikut: organisasi internasional (seperti UN dan WHO) meneliti data masing-masing negara untuk menginformasikan berbagai negara atas temuannya. Pemerintah memiliki peran untuk mengatur tanggapan terkait isu–isu kesehatan/lingkungan dan selanjutnya dapat mendiseminasi informasi tersebut kepada masyarakat. Setiap organisasi swasta dan masyarakat sipil (setiap orang) secara bertanggungjawab dapat membantu mengembangkan solusi inovatif, menginformasikan tentang efek dari virus korona dan langkah-langkah pencegahan.

Credits:

Concept-Writing: Ifrad

Creative Design: Dewinta IS & Fariz A

Sumber: The chain of impacts of the coronavirus on the UN Sustainable Development Goals and on the life of the people. IMEDD, 6 Mar 2020.

Cara mengutip

Punto Wijayanto. (2020). Rantai Dampak Coronavirus terhadap SDGs Goals. SMI Institute, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Diakses , dari 

Terkait

Pengetahuan serupa

Dipilih berdasarkan kesamaan tag sektor, tema, dan geografi.

Diskusi

Pertanyaan yang tidak untuk dibahas terbuka dapat dikirim lewat korespondensi tertutup.

Masuk untuk ikut berdiskusi. Komentar anonim tidak tersedia.

Memuat diskusi…