Kondisi, Evaluasi dan Strategi Ketahanan Pangan Indonesia
"Food is important as energy, as security, as the environment. Everything is linked together" – Louise Fresco Indonesia mencatat pertumbuhan...
“Food is important as energy, as security, as the environment. Everything is linked together” – Louise Fresco
Indonesia mencatat pertumbuhan populasi kurang lebih 1% setiap tahunnya. Tercatat per Juni 2021, penduduk Indonesia mencapai 273,5 juta dengan proporsi 3,51% dari seluruh penduduk dunia dan menduduki posisi ke-4 sebagai negara dengan populasi terbesar (Worldometers, 2022). Pertambahan populasi secara langsung akan meningkatkan kebutuhan pangan di Indonesia. Selain itu perubahan iklim, sistem pertanian tradisional, minimnya jumlah petani dan berkurangnya lahan pertanian termasuk gejolak politik dan sosial menjadi ancaman tersendiri untuk ketahanan pangan di Indonesia.
Prioritas pembangunan yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDG) menyebutkan bahwa pada tahun 2030, Indonesia berkomitmen untuk menghapus kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi, dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan. Sistem ketahanan pangan melibatkan berbagai lini industri seperti industri pangan, logistik dan pergudangan, serta sistem distribusi sehingga menjadi kesatuan yang kompleks. Maka dari itu, diperlukan terobosan baru dan kerjasama yang baik antar aktor dan lembaga yang berperan untuk menjamin ketersediaan pangan untuk Indonesia.
Kondisi Ketahanan Pangan di Indonesia
Ketersediaan bahan pangan adalah salah satu hal yang harus dipenuhi negara untuk menjamin masyarakat hidup sehat dan dapat beraktifitas. Meskipun mendapatkan julukan lumbung padi, nyatanya Indonesia masih mengimpor bahan pangan untuk memenuhi konsumsi domestik. Data impor dan ekspor dari rilis BPS Januari 2022 menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor beras sebanyak 37.485 ton naik 57,05% YoY, daging ayam sebanyak 23 ribu kilogram yang berasal dari Jepang dan Singapura, cabai sebanyak 1.572 ton dari India, Tiongkok, Malaysia, garam sebanyak 23.015 ton dari Australia, Korea Selatan hingga Amerika Serikat dan kedelai sebanyak 224.384 ton dari India dan Jerman. Hal ini tentunya menjadi tolak ukur yang masih jauh dalam capaian ketahanan pangan.
World Health Organization mendefinisikan ketahanan pangan ke dalam tiga aspek yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Selanjutnya, kondisi ketahanan pangan di Indonesia dapat digambarkan melalui Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) yang dapat dirinci hingga tingkat kecamatan. Data FSVA 2021 yang ada di website resmi Kementerian Pertanian mencatat bahwa 12 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki ketahanan pangan dibawah rata-rata (72,43). Tiga provinsi dengan indeks ketahanan pangan tertinggi yaitu Bali (83,82), Jawa Tengah (82,74) dan DI Yogyakarta (81,43) sedangkan untuk tiga provinsi dengan indeks ketahanan pangan terendah yaitu Maluku (58,70), Papua Barat (46,04) dan Papua (35,48). Hasil angka indeks yang semakin tinggi mengindikasikan bahwa kondisi pangan mencukupi dan dapat diakses dengan baik.

Gambar 1. Peringkat Ketahanan Pangan dan Pemetaan ketahanan pangan di Indonesia (Sumber : Kementerian Pertanian (2021) dan Global Food Security Index (2022))
Meskipun sektor pertanian dalam kontribusi PDB Indonesia memberikan andil yang cukup besar, namun isu ketahanan pangan di Indonesia masih belum teratasi. Bahkan, jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia, ketahanan pangan Indonesia menempati posisi 69 dari urutan 113 negara di dunia. Selanjutnya, dalam lingkup wilayah ASEAN, Indonesia masih berada di bawah Singapura yang tidak memiliki lahan pertanian yang luas. Hal ini juga dikonfirmasi oleh kontribusi sektor pertanian yang turun dalam 50 tahun terakhir. Pada tahun 1960, kontribusi sektor pertanian mencapai 34,22%, kemudian turun menjadi 20,40% pada 1990 hingga hanya 13,28% di tahun 2021. Oleh karena itu, dapat disimpulkan peran sektor pertanian semakin minim sehingga masih belum efektif dalam menciptakan ketahanan pangan.
Evaluasi Infrastruktur Pertanian
Pembangunan Indonesia secara menyeluruh tentunya didukung oleh sektor pertanian yang solid. Namun, hingga saat ini sektor ini belum berkembang secara maksimal untuk menunjang stabilitas ketahanan pangan. Salah satu tantangan dalam ketahanan pangan adalah infrastruktur yang layak untuk mendukung pemerataan distribusi pangan, produksi pangan yang cukup serta kemudahan akses pangan. Jika infrastruktur sudah memadai maka kesejahteraan masyarakat akan meningkat karena akses pangan dapat tercukupi.
Pertama, luas lahan panen. Berdasarkan data BPS, luas lahan panen dalam empat tahun terakhir mengalami penurunan. Pada tahun 2021, luas lahan panen di Indonesia diperkirakan mencapai 10,52 juta hektar, mengalami penurunan sebesar 8,5 persen dibandingkan tahun 2018 dengan luas total 11,37 juta hektar. Penyusutan lahan pertanian terbesar terjadi di Provinsi Sumatera Selatan (-59.082 hektar), Lampung (-54.560 hektar) dan Kalimantan Selatan (-34.076 hektar). Penyusutan lahan ini terjadi karena lahan dikonversi menjadi perumahan, jalan tol, dan fasilitas publik lainnya (BPS,2021). Penurunan ini harusnya bisa menjadi early warning kepada pemerintah, karena panen berkaitan erat dengan ketahanan pangan. Meskipun demikian, pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai perlidungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dalam Undang-Undang 41 tahun 2009. Jika melanggar, pelaku akan dikenakan berbagai sanksi administratif berupa penutupan lokasi, pencabutan izin atau denda administratif.
Kedua, sistem irigasi. Keberhasilan pertanian untuk ketahanan pangan didukung oleh sistem irigasi yang baik sehingga ketersediaan air untuk pertanian cukup. Saat ini, pemeliharaan irigasi di Indonesia masih belum maksimal terutama untuk lahan pertanian di luar Pulau Jawa. Ketimpangan produksi pertanian antara Jawa dan luar Jawa masih tinggi yaitu 28% di mana akses irigasi menjadi kontributor ketimpangan ini (Amalia,2019). Dalam mengatasi hal ini, selain kebijakan yang terarah dari pusat dan daerah, pemerintah telah mengalokasikan dana pengelolaan air irigasi untuk pertanian. Data dari Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pertanian 2020-2024, total alokasi dana yang diberikan sebesar Rp3,1 triliun.
Ketiga, teknologi pertanian. Penggunaan teknologi berkorelasi positif dengan kemajuan pertanian di Indonesia. Teknologi di sektor ini berperan untuk inetensifikasi dan ektensifikasi pertanian, meningkatkan produktivitas, mengolah hasil pertanian dan diversifikasi pangan. Beberapa teknologi yang diaplikasikan di Indonesia adalah penggunaan transplater sebagai pencangkok dalam proses penanam padi yang diprediksi dapat meningkatkan produksi padi hingga 30%. Selanjutnya, alat pengering kedelai yang memangkas waktu dari 8 hari menjadi 1 hari. Teknologi ini juga meningkatkan daya tumbuh benih kedelai hingga 93% (Lubis, 2021). Dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, kita perlu mengkombinasi 4 komponen teknologi yaitu technoware (teknologi yang ada dalam mesin dan peralatan), humanware (ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh manusia), infoware (sistem informasi ketersediaan bahan pangan, dan bagaimana cara mengembangkannya), dan orgaware (kelembagaan dan kemitraan untuk kegiatan yang lebih produktif) (Fauzi,2011).
Dalam prakteknya, pemerintah terus mendukung pembangunan infrastruktur dengan alokasi anggaran infrastruktur yang meningkat. Pemerintah mengalokasikan dana setidaknya Rp417,4 triliun pada 2021 dan sebesar Rp384,4 triliun di 2022 untuk pembangunan infrastruktur. Anggaran ini akan digunakan untuk menyediakan infrastruktur pangan yang memadai termasuk pemerataan akses yang terjangkau. Sesuai dengan tujuan distribusi pangan yang lebih baik, akan dibangun jalan sepanjang 965,4 kilometer dan jembatan sepanjang 26,9 kilometer. Sedangkan untuk ketersediaan air, pemerintah akan membangun dan revitalisasi bendungan dengan total 53 unit (Kemenkeu,2021).
Strategi Ketahanan Pangan
Melalui rilis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pemerintah telah menyusun kebijakan dalam menjaga ketahanan pangan nasional, di antaranya penyederhanaan dalam perizinan dan persetujuan ekspor, digitalisasi UMKM dalam mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan Transformasi Digital, sinergi BUMN hasil pertanian dari produksi hingga menuju konsumen akhir, kerjasama antar daerah serta pembentukan holding BUMN untuk penguatan ekosistem pangan nasional.
Tidak hanya itu, pemerintah juga membuka keran investasi untuk pembangunan infrastruktur penunjang ketahanan pangan. Utama (2013) dalam tulisannya tentang potensi dan peningkatan investasi di sektor pertanian menyebutkan bahwa investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berpotensi memberikan kontribusi lebih besar terhadap peningkatan pendapatan di sektor pertanian, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) memberikan kesempatan lebih besar dalam penyerapan tenaga kerja. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) mencatat bahwa, realisasi investasi meningkat dari tahun 2017 hingga tahun 2019 baik dari dalam negeri maupun dari asing. Namun sejak pandemi, investasi pada sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan cenderung menurun hingga 30%. Selanjutnya, jumlah proyek juga cenderung menurun dalam dua tahun terakhir bahkan hampir 50% pada Penanaman Modal Asing (PMA) (BKPM,2021). Selaras dengan tujuan perkembangan investasi di sektor pertanian, dibutuhkan pelayanan terbaik untuk investor termasuk informasi peluang investasi di sektor ini, kebijakan dan insentif yang dapat didapatkan dengan mudah dan pendampingan perencanaan investasi untuk investor dalam dan luar negeri.

Gambar 2. Realisasi Investasi dan Total Proyek Sektor Tanaman Pangan, Perkebunan dan Peternakan (Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal (2021))
Referensi:
Amalia,Ratna Rizki, Prasetyo, Octavia Rizky, Kadir. 2019. Analisis Kesenjangan Produktivitas Padi di Jawa dan Luar Jawa, (https://prosiding.stis.ac.id/index.php/semnasoffstat/article/download/125/20/), diakses 8 Maret 2022
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). 2021. Perkembangan Investasi pada PMA dan PMDN di Sektor Pertanian 2021, (https://nswi.bkpm.go.id/data_statistik), diakses pada 5 Maret 2022
Badan Pusat Statistik (BPS). 2021. Ekspor Januari 2022 mencapai US$19,16 miliar dan Impor Januar 2022 senilai US$18,23 miliar, (https://www.bps.go.id/pressrelease/2022/02/15/1918/ekspor-januari-2022-mencapai-us-19-16-miliar-dan-impor-januari-2022-senilai-us-18-23-miliar.html), diakses pada 5 Maret 2022
Badan Pusat Statistik (BPS). 2021. Luas Panen Produksi dan Produktivitas Padi Menurut Provinsi, (https://www.bps.go.id/indicator/53/1498/1/luas-panen-produksi-dan-produktivitas-padi-menurut-provinsi.html), diakses pada 8 Maret 2022
Badan Pusat Statistik (BPS). 2021. Produksi Padi Tahun 2021 Naik 1,14 persen Angka Sementara, (https://www.bps.go.id/pressrelease/2021/10/15/1850/produksi-padi-tahun-2021-naik-1-14-persen--angka-sementara-.html), diakses pada 8 Maret 2022.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2021. Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri Impor Desember 2021. (https://www.bps.go.id/publication/2022/03/01/b3a21519f1598b4b439b00c3/buletin-statistik-perdagangan-luar-negeri-impor-desember-2021.html), diakses pada 7 Maret 2022.
Badan Pemeriksa Keuangan RI. 2009. Pearturan UU No.41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, (https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/38786/uu-no-41-tahun-2009), diakses pada 8 Maret 2022.
Fauzi,Anas Miftah. 2011. Ketahanan Pangan Nasional dan Peran Teknologi Pertanian, (https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/51654/1/Anas%20Miftah%20Fauzi.pdf), diakses 9 Maret 2022
Lubis, Kaduan. 2021. Perkembangan Teknologi Pertanian di Indonesia, (https://retizen.republika.co.id/posts/19245/perkembangan-teknologi-pertanian-di-indonesia), diakses 9 Maret 2022
Kementerian Keuangan (Kemenkeu). 2021. Infomasi APBN 2021 Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Informasi, https://www.kemenkeu.go.id/media/16835/informasi-apbn-2021.pdf, diakses 14 Maret 2022
Kementerian Koordinator Perekonomian Indonesia. 2021. Berita dan Siaran Pers, (Online), (https://www.bps.go.id/indicator/13/1842/2/realisasi-investasi-penanaman-modal-dalam-negeri-menurut-sektor-ekonomi-23-sektor-.html, diakses 7 Maret 2022
Kementerian Pertanian. 2020. Rencana Strategis (RENSTRA) 2020-2024, (https://ppid.pertanian.go.id/doc/1/Draft%20Renstra%202020-2024%20edited%20BAPPENAS%20(Final).pdf), diakses pada 7 Maret 2022
Kementerian Pertanian. 2021. Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia (FSVA) 2021, (http://app2.bkp.pertanian.go.id), diakses pada 5 Maret 2022
Katadata. 2021. Terbesar dalam Enam Tahun, Anggaran Infrastruktur Capai Rp417, 4 Triliun pada 2021, (https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/08/16/terbesar-dalam-enam-tahun-anggaran-infrastruktur-capai-rp-4174-triliun-pada-2021), diakses pada 5 Maret 2022
Pasandaran, E. 2007. Pengelolaan infrastruktur irigasi dalam kerangka ketahanan pangan nasional. Analisis Kebijakan Pertanian, 5(2), 126-149.
Utama, Made Suyana. 2013. Potensi dan Peningkatan Investasi di Sektor Pertanian dalam Rangka Peningkatan Kontribusi Terhadap Perekonomian di Provinsi Bali , (https://media.neliti.com/media/publications/44275-ID-potensi-dan-peningkatan-investasi-di-sektor-pertanian-dalam-rangka-peningkatan-k.pdf), diakses pada 5 Maret 2022
Worldometers. 2022. Countries in the World by Population (2022), https://www.worldometers.info/world-population/population-by-country/, diakses pada 14 Maret 2022
Cara mengutip
Riyandi Saras Anggita. (2022). Kondisi, Evaluasi dan Strategi Ketahanan Pangan Indonesia. SMI Institute, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Diakses , dari
Terkait
Pengetahuan serupa
Dipilih berdasarkan kesamaan tag sektor, tema, dan geografi.
Pertumbuhan Ekonomi, Daya Beli dan Covid-19
Bagi sebagian kalangan, membicarakan pertumbuhan ekonomi saat ini menjadi kurang tepat. Mengingat, indikator-indikator ekonomi tidak normal karena pandemi Covid-19. Akan...
Pembangunan Ekonomi Kota melalui Pemanfaatan Aset Pusaka
Pelestarian Pusaka Perkotaan: Masa Kini, Masa Lalu dan Masalahnya Pusaka budaya dan peninggalan bersejarahan ada di sekitar kita. Banyak yang...
Second Wave COVID-19 dan Bagaimana Mencegahnya - Lesson Learnt dari Tiongkok
Pandemi COVID -19 telah meluluhlantakan ekonomi dunia, ketakutan berada di benak semua orang mengenai kapan wabah ini akan berakhir. Ketika...
Rantai Dampak Coronavirus terhadap SDGs Goals
Negara-negara di dunia saat ini menghadapi pandemi COVID-19 yang menekan ekonomi global dan juga hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Artikel...
Diskusi
Pertanyaan yang tidak untuk dibahas terbuka dapat dikirim lewat korespondensi tertutup.
Masuk untuk ikut berdiskusi. Komentar anonim tidak tersedia.
Memuat diskusi…