Lewati ke konten utama / Skip to main content
Masuk
Lesson LearnedArtikel

The Perfect Storm - Coronavirus in Indonesia

Diskusi ini diawali dengan paparan Dr. Gindo yang merupakan Deputy Director di Rory & Elizabeth Brooks Doctoral College, University of...

IKI Kadek Dian Sutrisna ArthaKepala Divisi Riset Ekonomi
Terbit 22 April 2020216 dilihat

Diskusi ini diawali dengan paparan Dr. Gindo yang merupakan Deputy Director di Rory & Elizabeth Brooks Doctoral College, University of Manchester. Beliau menjelaskan bahwa jenis kelamin, usia, dan komorbid yang menyertai adalah tiga faktor yang sangat mempengaruhi penularan coronavirus, seperti misalnya seorang laki-laki, usia 40 tahun ke atas dengan penyakit kronis jantung, darah tinggi, dan/atau diabetes.

Menurutnya COVID-19 ini berbeda dengan SARS/Ebola, di mana pasien dari hari pertama hingga hari ke-tujuh walaupun sudah tertular, tetap tidak menunjukkan gejala dan cenderung dapat menularkan. Diperkirakan di Inggris saat ini terdapat 60-70% orang positif dan tidak bergejala. Untuk itulah corona virus ini disebut virus ranjau dan keberhasilan penanganan wabah ini sangat tergantung pada informasi yang jujur dan tepat waktu.

Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia memiliki tingkat kematian yang paling tinggi. Fakta ini merupakan wujud dari Sistem Kesehatan Nasional di Indonesia yang masih jauh tertinggal dari negara-negara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, maupun Vietnam.

Selain itu, kesulitan yang mungkin dialami oleh pemerintah dalam memisahkan kelompok berisiko menengah dan tinggi dari masyarakat umum akan terus mendorong penyebaran virus di Indonesia, menentang efek dari upaya dan inisiatif pemerintah. Dr. Gindo berpendapat bahwa kelompok berisiko menengah dan tinggi di Indonesia adalah penduduk berusia 40 tahun ke atas; berbeda dengan kelompok berisiko di negara lain yang kebanyakan adalah penduduk berusia >70 tahun. Ini dikarenakan sekitar 70% dari penduduk Indonesia dengan usia >40 tahun memiliki risiko penyakit kardiovaskular, darah tinggi, maupun diabetes.

Pemisahan sulit dilakukan karena banyak dari penduduk Indonesia yang tidak sadar akan status kesehatan diri mereka sendiri. Banyak kasus di mana penduduk di usia produktif merasa sehat namun ternyata memiliki kondisi kardiovaskular, darah tinggi, atau diabetes. Ketidaktahuan inilah yang menyulitkan pemerintah untuk memisahkan kelompok berisiko tersebut dari masyarakat pada umumnya.

Jika kita mau mengambil pembelajaran dari Inggris dan Amerika Serikat, tanpa adanya upaya pembatasan, Inggris bisa mengorbankan setengah juta orang dan Amerika Serikat 2 juta jiwa. Semua negara di bawah ini adalah negara-negara yang memiliki sistem kesehatan nasional yang kuat, namun mereka juga terdampak luar biasa dengan jumlah orang yang tertular sangat tinggi.

Kasus

Meninggal

Amerika

336.851

9.620

Spanyol

135.032

13.055

Italia

128.948

15.887

Pengamatan lain yang disampaikan oleh Dr. Gindo adalah semakin tinggi level pembatasan, semakin rendah pula korban jiwanya. Level pembatasan dan upaya lainnya oleh pemerintah disesuaikan dengan kapasitas sistem kesehatan yang ada di negara masing-masing. Sebagai contoh, Inggris, seperti negara-negara lain pada umumnya, memiliki suatu patokan yaitu jumlah tempat tidur ICU per 100.000 orang. Oleh karena itu, pemerintah Inggris berupaya sebisa mungkin untuk menjaga jumlah pasien yang terpapar COVID-19 masih dalam rentang kuantitas yang bisa ditampung oleh sistem kesehatan di sana.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian juga ialah bahwa tingkat penularan dapat berubah-ubah walaupun kurva sudah selesai dan sifat wabah yang memiliki puncak yang berkala. Hal ini menggarisbawahi pentingnya jumlah/kapasitas ruang gawat darurat yang diupayakan untuk harus selalu mencukupi untuk setiap puncak epidemi.

Selain meningkatkan kemampuan dan kapasitas jumlah rumah sakit rujukan COVID-19 serta melengkapinya dengan fasilitas penunjang seperti mesin PCR, diagnostic kits, obat-obatan, dan APD, sangatlah penting untuk diperhatikan bahwa kelompok penduduk berusia 40 tahun adalah kelompok berisiko tinggi. Usia 40 tahun pada umumnya merupakan motor penggerak ekonomi, sehingga jika tidak berhati-hati maka akan berdampak berkali-kali lipat ke segala sektor pada suatu negara. Jadi bagi kita, siapapun jika sudah di atas umur 40 tahun, memiliki penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, gagal ginjal, atau kanker, maka tidak ada kata lain selain berhati-hatilah menjaga diri kita masing-masing dalam wabah ini.

Pesan lain yang disampaikan oleh Dr. Gindo pada paparan yang sama ialah penggambaran wabah ini bagaikan lari estafet, di mana pergerakannya berbeda jika dibandingkan dengan lari dengan jarak tertentu—misalnya 100 meter—dan perlu juga kita pahami bahwa masa wabah paling singkat adalah 1 quartal.

Tidak hanya itu, secara demografis, keadaan dari Sabang sampai dengan Merauke lebih rentan dan memiliki tantangan yang lebih besar daripada keadaan di Inggris atau Amerika Serikat. Adanya ketimpangan fasilitas kesehatan dan penanganan kegawatdaruratan serta tenaga kesehatan di penjuru Indonesia jelas memerlukan respon yang lebih serius.

Credits:

Concept-Writing: Ifrad & Dewinta IS


Reference:

Webinar PKMK FK-KMK UGM, The Perfect Storm: Coronavirus in Indonesia, 9 April 2020

Dr. Gindo, Deputy Director di Rory & Elizabeth Brooks Doctoral College, University of Manchester, UK

Cara mengutip

I Kadek Dian Sutrisna Artha. (2020). The Perfect Storm - Coronavirus in Indonesia. SMI Institute, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Diakses , dari 

Terkait

Pengetahuan serupa

Dipilih berdasarkan kesamaan tag sektor, tema, dan geografi.

Diskusi

Pertanyaan yang tidak untuk dibahas terbuka dapat dikirim lewat korespondensi tertutup.

Masuk untuk ikut berdiskusi. Komentar anonim tidak tersedia.

Memuat diskusi…