Lewati ke konten utama / Skip to main content
Masuk
Lesson LearnedArtikel

Sistem Panas Bumi Tersembunyi di Indonesia: Potensi dan Tantangan

Indonesia merupakan wilayah yang terbentuk oleh deretan gunung api aktif sehingga menyimpan potensi sumber daya panas bumi yang besar. Pada...

IKI Kadek Dian Sutrisna ArthaKepala Divisi Riset Ekonomi
Terbit 21 Desember 2021110 dilihat

Indonesia merupakan wilayah yang terbentuk oleh deretan gunung api aktif sehingga menyimpan potensi sumber daya panas bumi yang besar. Pada saat ini lapangan-lapangan panas bumi yang sukses dikembangkan di Indonesia merupakan lapangan-lapangan yang berada pada lingkungan vulkanik dan dicirikan oleh banyaknya manifestasi termal seperti mata air panas, fumarol/solfatara, kolam panas, dll. Namun demikian, melihat aktivitas gunung api maupun tektonik yang intensif di Indonesia akan sangat memungkinkan masih adanya potensi panas bumi yang belum terpetakan dengan baik dikarenakan langkanya manifestasi di permukaan atau disebut dengan sistem panas bumi tersembunyi (hidden/blind geothermal system}

Sistem panas bumi tersembunyi merupakan sistem panas bumi yang hanya sedikit menunjukkan tanda-tanda termal di permukaan, namun demikian sistem tersebut memiliki banyak kemiripan dengan sistem hidrotermal konvensional (Garg, et al., 2010; Dobson, 2016). Keberadaan prospek panas bumi semacam ini mungkin menyimpan potensi energi yang dapat dimanfaatkan. Namun demikian, dengan sedikitnya manifestasi termal yang ada di permukaan, tingkat kepercayaan terhadap adanya sumber daya panas bumi di bawah permukaan menjadi sangat rendah.

Beberapa peneliti terdahulu menyebutkan bahwa sistem panas bumi tersembunyi ini ditemukan secara tidak sengaja saat dilakukannya kegiatan eksplorasi yang bertujuan untuk mencari sumber daya lain seperti air tanah, minyak dan gas, atau mineral (Takenaka, et al., 1995; Furuya, et al., 2000; Garg, et al., 2010; Faulds, et al., 2016; Dobson, 2016), contohnya di Takigami (Jepang), serta Imperial Valley dan Basin Range (USA). Dobson (2016) menyimpulkan beberapa sebab manifestasi-manifestasi termal tidak dapat muncul antara lain:

  1. Seal yang tebal dan telah berkembang dengan lebih baik (contoh: lapisan tebal lava atau batuan sedimen);
  2. Tertutupnya jalur patahan yang permeabel karena tertutupi oleh endapan batuan yang lebih muda, atau pengendapan mineral hidrotermal;
  3. Turunnya muka air tanah;
  4. Tersamarkan oleh lapisan air tanah dangkal;
  5. Merupakan kompartemen sistem yang lebih kecil dari suatu sistem yang besar.

Pada dasarnya, eksplorasi panas bumi bertujuan untuk menemukan reservoar panas bumi dengan kondisi yang memenuhi syarat untuk berproduksi dengan teknologi yang ada. Pencarian sistem panas bumi tersembunyi ini pada umumnya menggunakan metode yang sama seperti yang digunakan di dalam eksplorasi sistem panas bumi konvensional, oleh karena itu untuk menemukannya tetap diperlukan pengetahuan tentang sistem panas bumi konvensional sebagai analogi untuk memahami sistem tersembunyi ini dengan lebih baik. Menurut Faulds, et al. (2016) serta Dobson (2016) penggunaan teknologi yang inovatif berdasarkan metode eksplorasi konvensional perlu dikembangkan serta diuji untuk dapat menemukan sistem panas bumi semacam ini.

Survei 3G (Geologi, Geokimia, Geofisika) masih dapat diterapkan namun dengan sensitivitas dan resolusi yang lebih tinggi. Analisis penginderaan jauh menggunakan analisis hyper spectral mungkin dapat digunakan di dalam mengidentifikasi area-area yang mungkin terkait dengan aktivitas panas di bawah permukaan. Selain digunakan di dalam mengidentifikasi keberadaan struktur geologi serta sebaran batuan vulkanik, beberapa data citra seperti Aster tipe tertentu yang dilengkapi sensor TIR multispektral, atau drone dengan sensor inframerah dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya anomali temperatur permukaan yang mungkin berasosiasi dengan keberadaan panas di bawahnya. Metode semacam ini sudah mulai digunakan di lapangan-lapangan konvensional seperti yang dilakukan Meer, et al., (2014) dan mungkin dapat diterapkan pada lapangan-lapangan dengan manifestasi yang minim. Kemudian metode geokimia yang mungkin dapat diterapkan pada lapangan semacam ini seperti metode soil dan soil-gas survey untuk melihat anomali-anomali yang mungkin terkait dengan keberadaan sumber daya panas bumi di bawahnya.

Berdasarkan pengalaman penulis metode geofisika seperti magnetotellurik mungkin salah satu alat yang cukup powerful untuk menggambarkan kondisi bawah permukaan dari suatu sistem panas bumi tersembunyi, hal tersebut juga pernah diterangkan oleh Cumming (2009) di dalam publikasinya. Namun demikian metode magnetotellurik ini hanya dapat diterapkan selama prosedur pengambilan data, pengolahan, hingga interpretasi dilakukan secara hati-hati, serta ditunjang dengan pemahaman geologi yang baik terhadap area prospek. Selain itu metode Micro Earthquake (MeQ) yang selama ini hanya digunakan pada tahap monitoring, mungkin dapat juga digunakan pada tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi pergerakan fluida pada prospek-prospek yang dicurigai memiliki sumber daya panas bumi namun tidak memunculkan manifestasi di permukaan.

Pada beberapa webinar yang penulis ikuti sering dijumpai pernyataan bahwa hampir semua lapangan-lapangan panas bumi besar (temperatur tinggi) di Indonesia sebenarnya sudah dikembangkan, situasi tersebut berimplikasi pada lapangan-lapangan atau prospek panas bumi yang tersisa mungkin adalah sistem-sistem panas bumi yang uncommon seperti sistem tersembunyi ini. Sesuai dengan RUPTL 2021-2030 kebutuhan tambahan pembangkit tenaga panas bumi di tahun 2030 adalah sekitar 3.355 MW, oleh karena itu pemahaman terkait sistem-sistem panas bumi uncommon ini sangat diperlukan karena bukan tidak mungkin prospek-prospek yang nantinya menjadi target pengembangan adalah prospek dengan karakter semacam ini. Berdasarkan pengalaman penulis sistem panas bumi seperti ini penulis jumpai pada beberapa prospek panas bumi yang pernah penulis kerjakan, salah satunya adalah area prospek yang saat ini termasuk ke dalam program government drilling. Sistem panas bumi tersembunyi ini juga dijumpai pada lapangan yang saat ini akan dikembangkan seperti di lapangan panas bumi Blawan-Ijen (Daud, et al., N/A). Oleh karena itu, tantangan untuk mengembangkan sistem panas bumi tersembunyi ini sebenarnya sudah di depan mata.

Selain tantangan dalam tahap eksplorasi, prospek panas bumi tersembunyi juga memiliki tantangan di tahap produksi, yaitu pada umumnya sistem panas bumi tersebut memiliki temperatur yang relatif lebih rendah dibandingkan sistem panas bumi yang konvensional. Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri, karena hingga saat ini teknologi pembangkitan pada sistem panas bumi low-medium belum pernah diaplikasikan di Indonesia. Walaupun sebenarnya teknologi tersebut sudah mendapatkan momentum dan mulai banyak dikembangkan di dunia. Oleh karena itu risiko yang ada kini bukan hanya risiko sumber daya, namun juga terdapat risiko teknologi.

Penajaman pengetahuan dan metode eksplorasi baik geologi, geokimia, maupun geofisika dibutuhkan untuk mengidentifikasi prospek-prospek semacam ini. Kemudian teknologi ekstraksi tepat guna juga harus diterapkan saat prospek panas bumi tersebut kemudian akan dikembangkan. Perbandingan metode dan tingkat kesuksesan dari lapangan konvensional yang sudah berhasil dikembangkan di Indonesia, atau sistem-sistem tersembunyi yang sudah berkembang di luar negeri khususnya pada lapangan-lapangan panas bumi yang terletak pada volcanic geothermal play dapat dilakukan sebagai pembelajaran untuk memahami potensi sistem panas bumi tersembunyi di Indonesia dengan lebih baik.


Referensi:

Cumming, W. 2009. Geothermal Resource Conceptual Models Using Surface Exploration Data. Proceeding Thirty-Fourth Workshop on Geothermal Reservoir Engineering Stanford University

Daud, Y., Nuqramadha, W.A., Fahmi, F., Pratama, S.A., Rahman, K.R., & Subroto, W. (N/A). Discovering “Hidden” Geothermal Reservoir in Blawan-Ijen Geothermal Area (Indonesia) Using 3-D Inversion of MT Data.

Dobson, P.F. 2016. A Review of Exploration Methods for Discovering Hidden Geothermal Systems. GRC Transactions, Vol. 40, pp.695-706.

Faulds, J., & Hinz, N. 2015. Favorable tectonic and structural settings of geothermal systems in the Great Basin region, western USA: Proxies for discovering blind geothermal systems. Proceedings World Geothermal Congress 2015.

Furuya, S., Aoki, M., Gotoh, H., & Takenaka, T. 2000. Takigami Geothermal System, Northeastern Kyushu, Japan. Geoethermic 29 (2000), pp.191-211

Garg, S. K., Pritchett, J. W., Combs, J. 2010. Exploring for hidden geothermal system. Proceeding World Geothermal Congress 2010

Meer, F., Hecher, C., Ruitenbeek, F., Werff, H., Wijkerslooth, C., & Wechsler, C. 2014. Geologic remote sensing for geothermal exploration: a review. Observation and Geoinformation v.33, pp.255-269

PT PLN (Persero). 2021. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

Takenaka, T., Gotoh, H., Yamamoto, Y., Furuya, S. 1995. Exploration and development of the Takigami geothermal system, Kyushu, Japan. J. Soc. Resource Geol. 45, 361-376

Cara mengutip

I Kadek Dian Sutrisna Artha. (2021). Sistem Panas Bumi Tersembunyi di Indonesia: Potensi dan Tantangan. SMI Institute, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Diakses , dari 

Terkait

Pengetahuan serupa

Dipilih berdasarkan kesamaan tag sektor, tema, dan geografi.

Diskusi

Pertanyaan yang tidak untuk dibahas terbuka dapat dikirim lewat korespondensi tertutup.

Masuk untuk ikut berdiskusi. Komentar anonim tidak tersedia.

Memuat diskusi…